We Never Know - Part 1
Hallo Namaku Alisha, aku baru saja lulus SMA tahun ini, aku berhasil lulus di umur yang bisa dibilang cukup muda di antara teman-teman seangkatanku, aku memang ikut akselerasi saat duduk di bangku kelas 1 SMA. Ya, umur ku masih 16 tahun saat ini. Aku lahir dan besar di Jakarta, berbelas tahun hidup di kota ini sangat menyesakkan dan kemacetan yang semakin bertambah parah setiap tahunnya membulatkan tekadku untuk keluar dari penjara ini tahun ini. Yogyakarta, kota tujuanku untuk kuliah, aku mantap untuk pindah kesana!...
Dan singkat cerita, anu berhasil mendapatkan kuliah di Yogyakarta, dan beruntung batik Aku bisa kuliah di skampus impianku, Universitas Gadjah Mada. Agak sulit memang untuk berhasil masuk UGM, dan Aku bangga dengan pencapaianku ditambah aku bisa kuliah gratis alias beasiswa, jadi tidak merepotkan orang tuaku. Tapi aku tidak boleh berpuas diri, justru aku berpikir ini baru permulaan, permulaan sebuah cerita yang Aku pun tidak tahu dimana cerita ini akan berakhir, Bermula dari hari kedua ketika aku mengikuti OSPEK waktu itu....
Kami dikumpulkan di halaman depan kampus kehutanan, matahari pagi dengan indahnya menyelinap melalui rindangnya pohon kala itu. Hanya saja, masih ada yang lebih indah. Gema suara yang ku dengar dari kejauhan, ketegasan dan wibawa dalam berat nadanya, entah kenapa membuatku merasa terpanggil untuk mencari tahu lebih dalam dari mana suara itu berasal. Aku mulai berjalan mencoba mendekati asal suara indah yang kudengar barusan, dan ternyata…
Yaa.. Dia lah orang yang entah kenapa mencuri perhatianku. Namanya adalah Guntur, aku tahu bukan karena kenalan melainkan dari temannya yang kala itu memanggilnya. Seorang yang akhirnya aku tahu dia adalah ketua BEM, "Oh pantas saja" pikirku. Balik di hari kedua OSPEK, saat itu Kak Guntur mengarahkan semuanya termasuk barisanku, meski belum kenal bahkan dia pun tidak tahu namaku pastinya, "Alisha! Cepat jalan maju!" Suaranya mengagetkanku, sempat kupikir darimana ia tahu tapi ternyata anganku berhenti di papan nama semua peserta OSPEK yang dikalungkan di semua peserta. Hehe. Agak berlebihan memang tapi sapaan waktu itu mengenang dalam di otakku, sapaan dari seorang Kak Guntur..
Ahhh.. ini sudah seminggu semenjak hari itu, dan aku mulai lelah dengan suaranya yang masih terngiang dengan jelas didalam otakku setiap harinya tanpa bisa berbuat apa-apa. “Kak Guntur, sungguh aku ingin tahu lebih dalam tentang mu, rasanya ingin bisa kenal atau sekedar ngobrol, tapi bagaimana” ujarku dalam lamunan. Dan pada akhirnya aku putuskan, hari ini aku harus melakukan sesuatu untuk ini! Aku mulai mencari tahu, melihat gerak-geriknya, jam berapa dia masuk kelas, kelas apa yang dia ikuti di hari senin, dan bahkan sekarang aku tahu, bahwa dia selalu ke Perpustakaan setiap Rabu sore. Oke kali ini aku tidak boleh menyia-nyiakannya, aku harus berani…
"Aku harus berani" kata-kata yang selalu kuucapkan pada diriku sendiri. Entah sudah berapa kali kuucapkan tapi tubuhku masih kaku di pintu perpus yang sebenernya aku hanya butuh membuka pintu lalu masuk ke dalam mencari Kak Guntur lalu mulai obrolan, bahkan aku membayangkan dia masih ingat wajah dan namaku, bukan tidak mungkin kan.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak ku dan berkata "Hai, kamu mau masuk? Aku melihatmu berdiri disini sejak tadi hehehe"..
"Hmm.. hehe. Iya tapi.. aku. hmm" entah kenapa pikiranku kacau.
"Kayaknya kita seangkatan ya, aku lihat kamu minggu kemarin waktu ospek.. Kenalin, aku Farah, jurusan Psikologi hehe"
"Oh iyaa.. Namaku Alisha, anak komunikasi".. "Farah, kamu mau masuk?" Basa-basiku.
"Iyaa, yuk bareng.." itulah perkenalanku dengan sahabatku Farah...
Aku pun masuk ke perpus bersama Farah, untuk ukuran teman yang baru kenal Farah cukup asik, kita mengobrol di perpus sembari mataku mengelilingi setiap sudut mencari keberadaan Kak Guntur.
“hey lagi cari apa sih..” Ujar Farah,
“haah nggak kok Far, hehehe liat liat pemandanga aja, kan anak baru biar tau setiap sudut hehehe”ujarku berkilah,
“laaah kamu ada-ada aja sha hahaha, ayuk kita muter aja di perpus jangan cuman lihat2”
dan kita pun mengitari perpus. Sampai pada sudut rak buku literatur asing, “Kak Guntuurrr ituu Kak Guntuurr!! Masya Allah Kak Guntur” Teriakku dalam hati. Dia menoleh ke arah ku, dan berjalan ke arahku. Apakah ini mimpiiii.
“Fluffy, kamu ngapain disini? Numben kamu ke perpus”…
Kak Guntur pun berbicara, tapi.. bukan ke arah ku. Tapi… Farah. Dan kenapa ‘fluffy’, apa itu?! panggilan macam apa itu. Fikiranku mulai kacau…
***
Story by Gnt-Khns
Komentar
Posting Komentar