Roti Bakar Gula Pasir

Setelah mengalami sedikit kegundahan akibat dari memikirkan hal yang sebaiknya tidak aku fikirkan, atau dalam kata lain sebaiknya tidak perlu aku tahui dan seharusnya tidak perlu kucari tahu. Dan memang benar adanya jika tidak semua hal harus kita ketahui. Maka aku memutuskan untuk berhenti sejenak, dan mencari memori bahagia yang telah lama kutinggal dibelakang atau mungkin ku kubur dalam-dalam untuk coba ku ingat-ingat lagi. Paling tidak ada hal lain yang bisa aku tarik untuk sekedar mengecoh fikiranku yang sedang berkelana tak tahu arah saat ini.

Aku terdiam beberapa saat, mencoba menarik memori apa yang masih tersisa dan masih bisa kuecap rasanya. Proses pencarian ini membawaku kembali ke bulan Juli tahun 2012. Aku menduduki kelas 3 SMA saat itu, seorang anak tingkat akhir yang tidak lama lagi akan menghadapi ujian nasional dan mulai berkelana di kota orang untuk melanjutkan studinya.

Ingat sekali, hari itu sedikit berbeda dengan hari yang lainnya, aku berangkat dari rumah pukul 06.30, tidak seperti biasa jika berangkat aku langsung menuju ke sekolah. Hari ini kamu memintaku untuk singgah sejenak di rumahmu. Memang kamu hari itu tidak berangkat sekolah, jika tidak salah saat itu anak-anak kelas 1 dan 2 diliburkan sekitar 1 minggu karena ada ujian atau try out atau  apalah yang harus dilaksanakan oleh anak-anak kelas 3. Berhubung rumahmu juga satu jalan dengan jalanku kesekolah, aku mengabulkan permintaanmu untuk singgah sejenak pagi itu dirumahmu.

Hangat, itulah kesan yang setiap kali aku rasakan ketika bertamu dirumahmu, rumah yang kala itu aku anggap rumah keduaku. Ayah saat itu sedang duduk didekat pintu samping sambil menikmati secangki kopi pagi buatan ibumu dan sembari membaca koran, sedang Ibu seperti biasa ketika aku datang selalu menyambutku dengan senyum lebar dan teduhnya menghampiri dan memberikan aku pelukan yang menenangkan sambil bertanya "Echa, rajin banget nih pagi-pagi..". Ayah-Ibu, ya begitulah aku memanggil mereka, sama persis sebagaimana kamu memanggil mereka, bukan Om-Tante, bukan Bapak-Ibuk, bukan PakDe-Bude, Ya Ayah-Ibu, aku memanggil mereka dengan sebutan Ayah-Ibu. Entah kenapa rasanya mereka pun sudah seperti kedua orang tuaku sendiri. Benar-benar pagi yang indah kala itu.


"Echa ayo nak kita sarapan dulu.." ujar ibumu sembari menyiapkan meja dengan sajian hanat yang baru saja ia angkat dari kompor. Sejujurnya aku agak sedikit terburu-buru kala itu, karna sedikit lagi gerbang sekolah akan ditutup, tetapi menolak permintaan ibumu adalah hal yang paling berat untuk kulakukan. "Hehehe Iy..." ujarku hampir mengiyakan ajakan ibumu yang kemudian kamu potong dengan bungkusan plastik yang baru saja ambil dari dapur "Tidak Bu, Echa tidak ikut sarapan hari ini, dia buru-buru takut terlambat.." Ibumu hanya mengangguk ke arahku dengan senyum menggoda seakan-akan dia tahu sesuatu.

"Heyy ini.., dibawa ya nanti dimakan kalau sudah sampai sekolah, aku membuatkannya tadi subuh khusus untukmu, rasanya pasti enak dan semoga kamu suka, dan ini air minumnya.. Sudah sana berangkat sudah hampir telat kan, aku memintamu singgah hanya untuk memberikan ini.. Hati-hati yaa.." ya itu yang kamu ucapkan saat itu, kalimat yang cukup panjang, tapi cukup dalam sehingga saat ini masih bisa kuingat. kamu memberikanku bekal dalam kotak makan ukuran sedang dan satu botol air mineral. Itu adalah pertama kalinya aku mendapat makanan yang dimasakkan langsung oleh seseorang khusus untukku, tidak heran jika aku masih bisa mengingatnya sampai sekarang. Dan, terimakasih yaa :)

Sesampainya disekolah, aku masih memiliki waktu dan aku juga ingat pesan yang kamu sampaikan, untuk langsung memakannya sebelum aku memulai kegiatanku disekolah. Mulai kukeluarkan bekal yang kamu berikan dari dalam tasku, aku lupa kotak makan warna apa waktu itu hehehe, hanya saja apa yang ada didalamnya tentu masih terekam jelas sampai sekarang. 

Kotak makan itu berisi 2 buah roti bakar tanpa kulit dan 1 lembar surat tulis tangan darimu, entah dari mana kamu tahu kalau aku tidak menyukai pinggiran kulit roti. Roti bakarnya benar-benar tampak lezat, warna kuning kecoklatan seakan kamu sudah benar-benar ahli dalam memasaknya, aku mulai mengambil roti yang berada paling atas, aku buka lembarnya untuk memastikan apa isi roti tersebut, memastikan bahwa isinya bukanlah selai coklat, hehhehe. Aku perhatikan sekitar berapa detik aku masih tidak tahu roti bakar pertama itu berisikan apa, isinya bening seperti hanay di oleskan mentega, tanpa menerka-nerka lebih panjang aku memutuskan untuk langsung memakannya. "Ammm..." aku berhenti sejenak digigitan pertama, dan dengan muka yang agak sedikit terkejut mencoba memastikan lagi sebenarnya apa isi dari roti itu, bukan karna apa. Roti yang aku makan saat itu rasanya sangaattttlaaahhh enaaakkkk, benar-benar enaaakkkk. Baru kali itu aku memakan roti bakar dengan rasa yang baru kali itu aku rasakan dan rasanya luar biasa enak, sambil terus mengunyah sisa roti ditanganku aku kemudian mengambil surat tulis tangan didalam kotak bekal darimu yang belum sempat aku baca, kira-kira isinya begini "Selamat Makan Sayangggg, ini aku bikinin Roti bakar, yang paling atas roti bakar isinya gula dan mentega, yang bawah isinya selai strawberry, nanti sebelum makan yang bawah dibuka dulu ya lembar rotinya, tadi aku bikinnya susah payah loh hehehe... I Love You.." Membaca pesan yang kamu tulis membuat aku pensaran untuk segera mencicipi roti kedua, buru-buru aku habiskan roti bakar pertama dan mulai mengambil roti kedua. Seeperti yan kamu minta, aku membuka lembar rotinya dulu sebelum aku makan, daannnn yang kutemukan adalah... Selai Strawberry yang dibentuk dengan bentuk Love hahahaha bentuknya lucuuu sekali membuat aku jadi sayang untuk memakannya :")

Setelah bekal itu, aku jadi amat sangat menyukai roti bakar bikinanmu, hampir setiap hari setelah itu kamu membuatkan aku bekal sarapan pagi roti bakar gula pasir, dan setiap pagi pula aku mampir kerumahmu untuk mengambil bekalku yang kamu siapkan selama seminggu. Sampai saat ini aku belum pernah mencoba roti bakar manapun yang rasanya bisa menyamakan roti bakar gula pasir buatanmu hahahaha atau karna memang tidak ada yang pernah membuatnya, secara roti bakar buatanmu aneh, hanya berisi mentega dan gula pasirsaja, tapi sungguh resep Roti Bakar benar-benar lezaattt sekali. 

Dulu kamu membuatkan aku Roti Bakar itu sebagai tanda sayang bukan ? Jika boleh, nanti aku juga mau membuatkan roti bakar dengen resep yang sama persis untuk orang yang kelak aku sayang juga, boleh ya ? :D hehehe..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah.

The Old Tales Revealed #2