The Old Tales Revealed #3
Sakit.
Itu yang aku tau mengenai konsep “mendua” yang aku
sebutkan di cerita sebelumnya. Bukan aku. Bukan. Sama sekali bukan.
Ayahku.
Ya ayahku.
Ayahku memegang banyak peran dalam semua trauma yang aku
alami.
Terhadap segala ketakutanku dengan kaum lelaki.
Terhadap segala ketakutanku akan cinta.
Pengalaman pahit ini aku teguk 7 tahun yang lalu saat aku
hendak mengikuti ujian nasional di jenjang SMP. Hal yang tidak akan pernah aku
lupakan seumur hidupku, dimana saat-saat kehancuran keluargaku.
Bercerai? Tidak ayah dan ibuku tidak bercerai. Ibu ku adalah
orang yang hebat, dia mampu bertahan di atas hatinya yang mungkin sudah tak
lagi sanggup, dimana mungkin jantungnya tak lagi berdegup. Kadang ibu bahkan
tak terlihat seperti hidup. Apalagi di tahun-tahun pertama, mungkin ibu lebih baik
memilih mati jika tidak mengingat ada tiga anak yang dicintai dan membutuhkan
kasih sayangnya.
Salahkah? Tidak. Sama sekali tidak salah. Mendua bukanlah hal
yang salah.
Islam pun memperbolehkan berpoligami.
Boleh,
...apabila sang suami Mampu.
Nyatanya tidak.
Tidak ayah tidak mampu.
Ya Ayah langgar janji-janjinya, yang iya ikrarkan kepada ibu
sebelum berpoligami.
Mungkin bukanlah hal yang terlalu menyakitkan apabila ayah
berpoligami dengan wanita yang memang membutuhkan naungan, budak yang perlu di
merdekakan, janda, wanita soleha dan mereka yang memang pantas.
Selingkuh. Mungkin ini penyebabnya, “mendua” yang dilakukan
ayah tidak bisa kami terima sampai saat ini, bahkan sampai ayah telah memiliki
anak dari madunya.
Keluarga. Aku tidak begitu paham apa arti keluarga
sebenarnya. Tidak banyak hal-hal indah yang bisa aku ceritakan mengenai
keluarga. Bukan karna bingung memilih cerita yang mana.
Tapi,
tak punya.
Atau,
...punya,
Tapi aku sudah lupa.
Komentar
Posting Komentar